TANGERANG KOTA, Sekitartangerang, Pengurus Kecamatan (PK) Partai Golkar Karawaci resmi memasuki babak baru di bawah kepemimpinan sosok muda, Aufa Bilal Aqsha. Sebagai nakhoda anyar, Aufa membawa optimisme dengan visi besar yang ‘Karya Adaptif Kolaboratif’ demi menjawab tantangan dinamika politik dan organisasi ke depan.
Aufa menjelaskan bahwa esensi dari visi tersebut adalah komitmen untuk tiada henti menciptakan inovasi dan kontribusi nyata, namun tetap fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ia menekankan bahwa keberhasilan visi ini tidak dapat dicapai secara sendirian, melainkan harus melibatkan seluruh elemen yang ada di tingkat kecamatan hingga ke akar rumput.
“Prosesnya kita harus berkolaborasi. Ini bukan hanya berbicara soal lingkup Kecamatan Karawaci secara umum, tetapi bagaimana kita merangkul dan menyatukan potensi yang ada di banyak kelurahan di wilayah Karawaci itu sendiri,” ujarnya usai terpilih dalam Muscam kepada awak media di Hotel Golden Tulip, Kota Tangerang, Sabtu, 27 Juni 2026.
Aufa juga mengaku telah merumuskan empat pilar taktis yang disebutnya sebagai turunan langkah organisasi dengan Karya Inklusif itu embuka pintu keterbukaan selebar-lebarnya bagi internal partai maupun masyarakat untuk menampung ide, aspirasi, dan berbagai pandangan guna dipadukan bersama di PK Golkar Karawaci.
Kemudian, Karya Nasionalis itu menegaskan komitmen ideologis Partai Golkar yang berpegang teguh pada nilai-nilai nasionalisme demi menjaga keutuhan Indonesia di bawah panji Merah Putih.
Berikutnya, Karya Demokratis itu memberikan ruang yang setara bagi seluruh kader dan masyarakat untuk berdiskusi publik serta menyampaikan gagasan secara merdeka.
Terkahir, Karya Kreatif itu mendorong lahirnya gagasan-gagasan kreatif demi memastikan pergerakan organisasi tidak mandek dan terus melahirkan terobosan baru.
“Kita harus asah akal terus untuk menghadapi dinamika. Pokoknya, jangan sampai berhenti berpikir dan berhenti berdiskusi,” bebernya.
Bahkan, Aufa juga telah menyiapkan langkah strategis dalam ke depan. Menurutnya, fokus utamanya adalah pembenahan struktural melalui konsolidasi organisasi secara berjenjang.
Langkah awal ini akan dimulai dari penguatan internal di tingkat Kecamatan Karawaci, yang kemudian akan dilanjutkan dengan konsolidasi ke seluruh pengurus di tingkat kelurahan.
Sebagai pemimpin dari kalangan muda, Aufa menyadari betul adanya tantangan berupa perbedaan karakteristik antargenerasi di dalam tubuh partai, mulai dari kelompok muda yang cenderung apatis terhadap politik, hingga kelompok senior yang memiliki militansi dan semangat berorganisasi yang tinggi.
Menyikapi hal tersebut, ia menyiapkan strategi khusus berbasis pendekatan sosiologis dan psikologis untuk merajut keharmonisan antargenerasi.
Secara sosiologis, ia berkomitmen untuk beradaptasi dengan lingkungan serta memahami ciri khas dan keunikan masing-masing generasi. Sementara secara psikologis, ia ingin menyentuh aspek emosional kader dengan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur organisasi.
“Ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Wakil Ketua Bidang Organisasi terkait Panca Bakti ketiga, yaitu soal rasa setia kawan. Nilai kesetiakawanan inilah yang akan kami jadikan landasan psikologis yang kuat untuk merekatkan hubungan dan membangun soliditas antara senior dan junior di PK Karawaci,” pungkasnya.(darjo)






