Dinas Perpustakaan Dan Arsip Daerah Kota Tangerang Menyelenggarakan Forum Group Discussion

Kota Tangerang _Dalam upaya memperkuat pelestarian memori kolektif dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sejarah lokal, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Tangerang menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) Arsip Statis dengan tema “Sejarah Benteng Makasar” pada Jumat, 14 November 2025.
sehingga Registrasi arsip MKB didesain menjadi register nasional warisan dan dokumenter Indonesia berbentuk arsip yang memiliki signifikansi nasional jika dinilai ada signifikansi internasional akan lanjut dinominasikan sebagai Memory of the world (MOW) UNESCO baik regional maupun internasional sehingga Registrasi warisan Dokumenter dunia oleh UNESCO diruntis sejak 1992 dan terus berkembang dengan skema mendalam dari level internasional regional hingga nasional.

Kegiatan ini menghadirkan para sejarawan, akademisi, pegiat arsip, mahasiswa, serta perwakilan komunitas budaya untuk menggali nilai historis Benteng Makasar sebagai bagian penting dari perjalanan Kota Tangerang.

Kepala DPAD Kota Tangerang, Engkos Zarkasyi menjelaskan, kegiatan FGD ini bertujuan memperkaya pemaknaan terhadap arsip statis yang berkaitan dengan situs bersejarah, sekaligus mendorong pemanfaatan arsip sebagai sumber pengetahuan yang akurat bagi penelitian dan edukasi publik.

“Melalui forum ini, kami berharap dapat memperkuat dokumentasi dan publikasi sejarah lokal agar tetap lestari dan mudah diakses oleh generasi mendatang,” terang Engkos, Jumat (14/11/2025).arsip-statis-ungkap-sejarah-benteng-makassar-sebagai-warisan-kota
Ia menegaskan pentingnya pelestarian arsip sejarah. Diungkap Engkos, bahwasanya identitas Kota Tangerang tidak semua orang mengetahui, nantinya sejarah ini menjadi khasanah yang dipublikasikan web SIKN (Sistem Informasi Kearsipan Nasional) dan JIKN (Jaringan Informasi Kearsipan Nasional).

“Benteng Makasar adalah salah satu jejak sejarah kota yang harus kita jaga. Arsip-arsip yang berkaitan dengan situs ini memiliki nilai strategis dalam membangun identitas daerah. Kami berharap FGD ini menjadi langkah awal penguatan kajian sejarah lokal yang nantinya dapat diketahui masyarakat umum, ” ujarnya.

Engkos juga menambahkan, pelibatan masyarakat juga sangat penting dalam pelestarian situs sejarah. “Banyak informasi lokal yang masih tersimpan dalam ingatan warga. FGD seperti ini membuka ruang untuk menyatukan sumber akademis dan pengetahuan masyarakat agar sejarah Benteng Makasar dapat disusun lebih lengkap,” tuturnya.
arsip-statis-ungkap-sejarah-benteng-makassar-sebagai-warisan-kota Sementara itu, salah satu narasumber, Prof Mufti Ali dari UIN SMH Banten, menyampaikan pentingnya riset yang terukur dan berbasis arsip.

“Arsip statis memberi kita gambaran paling otentik mengenai perjalanan sejarah. Untuk memahami Benteng Makasar secara utuh, kita perlu melihat catatan kolonial, peta tua, serta kesaksian masyarakat terdahulu. Sinergi antara lembaga arsip dan peneliti menjadi kunci,” jelasnya.

Prof Mufti memaparkan, Benteng Makasar dibangun oleh VOC ditepi sungai Cisadane yang berfungsi sebagai pusat pertahanan, logistik dan pemerintahan milter VOC. Benteng makasar ini menjadi sasaran utama perlawanan Banten pasukan Sultan Ageng Tirtayasa.

“Benteng makasar yang terhubung ke hampir seluruh wilayah Tangerang melalui jalur Sungai Cisadane dan memiliki jalur darat terhubung langsung ke kastil Batavia kompeni memudahkan memobilisi pasukan, persenjataan, logistik, dan surat menyurat,” kata Prof Mufti. arsip-statis-ungkap-sejarah-benteng-makassar-sebagai-warisan-kota/”Lanjut dia, Benteng Makasar menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang mencari suaka politik, terutama penduduk Tangerang yang daerahnya menjadi bulan-bulanan milisi Sultan Ageng Tirtayasa.

“Seperti insiden 14 April 1682 ada 148 orang Jawa dan Bali termasuk anak dan istri mereka dari Lengkong , Bandocanh, Cikokol, Babakan datang ke markas kompeni di Tangerang,” tuturnya.

Narasumber lainnya, Mushab Abdu Asy Syahid selaku anggota tim ahli cagar budaya Provinsi Banten membawakan materi tentang koleksi arsip kolonial benteng makasar. Terdapat pertanyaan sebutan Benteng Makasar atau Benteng Tangerang.

“Kalau di Makasar ada namanya Benteng Rotterdam sedangkan di Tangerang bernama Benteng Makasar. Tangerang-Cisadane ini sebagai pelabuhan barat jawa,” Jelas Mushab.arsip-statis-ungkap-sejarah-benteng-makassar-sebagai-warisan-kota/Dosen Untirta Serang ini menuturkan, sungai cisadane menjadi batas wilayah awal antara Banten dan VOC Batavia setelah perang tahun 1682-1684. Pos-pos benteng kolonial dibangun sepanjang sungai cisadane : Benteng Muara, Benteng Tangerang, Benteng Wester Gouw, Penjaboengan, dan Benteng Ciampea.

“Pos Tangerang awalnya redout / ronduyt dan Palisade (1701). Penggagas fortifikasi Benteng Makasar/Tangerang tahun 1708, sebagai Gubernur-Jendral VOC kala itu Hendrick Zwaardecroom memimpin tahun 1667-1728,” bebernya.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan mengenai peran Benteng Makasar dalam sejarah pertahanan dan perkembangan permukiman awal di Tangerang. DPAD Kota Tangerang berharap hasil FGD ini dapat menjadi dasar dalam penyusunan kajian sejarah, program literasi arsip, dan penguatan konservasi arsip statis.

Kegiatan ini menjadi langkah nyata pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas kota melalui pelestarian arsip yang berkelanjutan.(Adv)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *